This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 09 Juni 2011

Keagungan Shalat Subuh

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka – padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka – ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita – walau shalat di masjid diperbolehkan – shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40).

Dalam hal ini,telah dijelaskan bahwa barang siapa yang dpat menolong agamanya, dengan mempertahankan sholatnya, niscaya Allah SWT akan menolongnya di akhirat kelak.

ANJURAN MEMPERBAGUS SHALAT DAN ANCAMAN BAGI SHALAT TANPA ATURAN

Kita sekarang sedang dalam bulan penuh ibadah, dan bulan berpuasa ; yaitu bulan Ramadhan nan penuh berkah. Hendaknya di dalam bulan puasa ini kita dapat tampil selaku mukmin yang sholeh ; yang taat kepada Rabb-Nya, dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, dalam segala ajaran yang beliau bawa dari Rabb-nya, terutama yang berkaitan dengan menegakkan ibadah nan agung ini ; yakni shalat tarawih. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda.

“ Barangsiapa yang beribadah dibulan Ramadhan ini dengan penuh keimanan dan perhitungan, niscaya akan diampuni baginya dosa-dosanya yang terdahulu”.

Sebagaimana yang diungkapkan ‘Aisyah r.a : ” … beliau shalat empat raka’at ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka’at ; jangan tanya juga soal bagus dan panjangnya..” Juga seperti yang diungkapkannya : “..beliau tak bergeming dalam bersujud, selama kalau seorang diantara kamu membaca lima puluh ayat ..” Atau seperti yang dituturkan oleh Hudzaifah : “Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah (yakni dalam raka’at pertama), setelah itu beliau ruku’. Dan ruku’nya itu sama panjang dengan berdirinya tadi … ” Kemudian ia menceritakan bahwa berdirinya beliau sesudah ruku’ dan sujudnya beliaupun sepanjang/selama itu juga. Kitapun mengetahui, bahwa para ulama As-Salaf pada masa Umar r.a juga biasa memanjangkan bacaan pada shalat tarawih, sehingga dalam shalat itu mereka membaca tak kurang dari tiga ratus ayat, sampai-sampai mereka terpaksa bertelekan pada tongkat-tongkat mereka karena oleh sebab lamanya berdiri. Dan mereka hanya baru usai menunaikan shalat menjelang fajar.
[1]Semua ini harus menjadi motivator bagi kita sekalian untuk sebisa mungkin menjadikan shalat tarawih kita mendekati kualitas shalat mereka. Hendaknya kita memanjangkan bacaannya, memperbanyak membaca tasbih dan dzikir dalam ruku’, sujud dan diantara keduanya
[2], sehingga kita dapat merasakan, meskipun hanya sedikit satu kekhusyu’an yang merupakan ruh dan saripati dari shalat itu sendiri. Kekhusyu’an inilah yang dilalaikan oleh banyak orang yang melakukan shalat itu saking bernafsunya mereka mengejar shalat 20 raka’at yang mereka yakini dari Umar ! Mereka tak perdulikan lagi tuma’ninah. Bahkan mereka shalat ibarat ayam mematuk. Seolah-olah mereka itu alat ataupun perangkat yang naik turun dengan cepat, sehingga mereka tak sempat lagi merenungkan ayat-ayat Allah yang mereka dengar. Sampai-sampai orang lainpun hanya bisa mengikuti mereka kalau berusaha setengah mati !.

Saya ungkapkan hal ini, dengan tetap menyadari bahwa tidak sedikit diantara para imam masjid pada akhir-akhir ini yang mulai sadar dengan kondisi shalat tarawihnya yang sudah sampai sedemikian bobroknya. Merekapun kembali melaksanakannya dengan 11 raka’at yang diimbangi dengan tuma’ninah dan kekhusyu’an. Semoga Allah menambah taufik-Nya atas mereka untuk mengamalkan dan menghidupkan As-Sunnah. Orang-orang semacam mereka itu banyak terdapat di Damaskus dan di tempat-tempat lain.

Hadist-hadits Yang Menganjurkan Dibaguskannya Shalat, Serta Mengancam Shalat Yang Tanpa Aturan

Sebagai support bagi mereka agar terus memperbagus dan menambah kualitas shalat, serta sebagai peringatan bagi mereka untuk tidak shalat serampangan, saya akan membeberkan beberapa hadits shahih yang diriwayatkan berkaitan dengan anjuran memperbagus shalat dan ancaman terhadap mereka yang shalat tanpa aturan. Saya katakan.

Yang Pertama :
Dari Abu Hurairah r.a diceritakan bahwa seorang lelaki pernah masuk masjid dan shalat, sedangkan Rasulullah SAW berada di pojok masjid tersebut. (Seusai shalat) Ia mendatangi beliau seraya mengucapkan salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda : “Shalatlah kamu,sesungguhnya tadi kamu belum shalat “. Orang itu balik lagi dan kembali shalat. Lalu menemui beliau lagi dan memberi salam. Setelah menjawab salamnya, beliau bersabda lagi : “Shalatlah kamu, sesungguhnya kamu belum lagi shalat”. Pada kali yang ketiga lelaki itu berujar : “Tolong ajarkan aku”. Beliaupun bersabda :

“Apabila kamu hendak shalat, maka berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadaplah kearah kiblat dan bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian ruku’lah, hingga kamu tuma’ninah dalam ruku’. Lalu tegaklah berdiri, hingga kamu berdiri lurus. kemudian bersujudlah hingga kamu tuma’ninah dalam sujud. Lalu bangkitlah dari sujud hingga kamu tuma’ninnah dalam duduk. Kemudian bersujud lagi hingga kamu tuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah dari sujud, hingga kamu tegak berdiri. Kemudian lakukanlah itu dalam shalat kamu seluruhnya”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (II : 1919, 219, 222, XI : 31, 467) Muslim (II : 10,11) dan lain-lain.

Yang Kedua :
Dari Abu Mas’ud Al-Badri, bahwa ia berkata : Rasulullah SAW bersabda.

“Artinya : Shalat seseorang itu tidak shah, sebelum ia meluruskan punggungnya baik dalam ruku’ maupun sujud”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I : 136), An-Nasa’i (I : 157), At-Tirmidzi (II : 51), Ibnu Majah (I : 284), Ad-Darimi (I : 304), Ath-Thahawi dalam “Al-Musykil” (I : 80), Ath-Thayalisi (I : 97), Ahmad (IV : 119) dan Ad-Daruquthni (hal 133) dan beliau berkomentar :

“Sanadnya shahih sekali”. Dan memang demikianlah adanya. Al-A’masy jelas meriwayatkannya dengan ucapan : “Telah berbicara kepadaku …” dalam riwayat Ath-Thayalisi.

Yang Ketiga :
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek cara malingnya adalah orang yang mencuri dari shalat-nya”. Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana ia bisa mencuri dari shalatnya ?” Beliau menjawab : “Bisa, yaitu ketika ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”.

Dikeluarkan oleh Al-Hakim (I : 229), beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Hadits itu juga memiliki penguat dari hadits Abu Qatadah dan yang lainnya dalam riwayat Imam Malik (I : 181) dari hadits Nu’man bin Murrah. Sanadnya shahih, tapi Mursal (terputusnya sanad dari Malik hingga Rasul). Riwayat lain oleh Ath-Thayalisi, dari hadits Abu Sa’id (I : 97) dan dishahihkan oleh Imam As-Suyuthi dalam bukunya “Tanwirul Hawalik”.

Yang Keempat :
Dari para panglima perang ; Amru bin Al-’Ash, Khalid bin Al-Walid, Syurahbil bin Hasanah dan Yazid bin Abu Sufyan ; mereka semua bertutur.

“Artinya : Rasulullah SAW pernah melihat seorang lelaki yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud ibarat ayam mematuk sedangkan ia dalam shalat. Maka beliau bersabda : “Seandainya lelaki ini meninggal dalam kondisi semacam itu, berarti ia meninggal diluar garis agama Rasulullah SAW [ia mematuk dalam shalatnya itu tak ubahnya bagai seekor gagak yang mematuki darah !] Perumpamaan orang yang tak menyempurnakan ruku; dan ibarat ayam mematuk itu, seperti orang lapar yang makan satu dua biji kurma, artinya ia tak akan mendapat pahala sama sekali”.

Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam “Al-Arba’in”, Al-Baihaqi (II : 89) dengan derajad sanad yang hasan. Al-Mundziri berkomentar (I : 182) :”Hadits ini diriwayatkn oleh Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir” dan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan serta Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya.

Yang Kelima : Dari Thalaq bin Ali r.a bahwa beliau berkata : Rasulullah SAW berbsada :

“Artinya : Allah tak akan mamandang shalat seorang hamba yang tidak menegakkan punggunngnya ketika ruku dan sujud”.

Dikeluarkan oleh Ahmad (IV : 22), Ath-Thabrani dalam “Al-Kabir”, Adh-Dhayya Al-Maqdisi dalam “Al-Mukhtarah” (II : 37) dan derajad sanadnya shahih. Hadits itu memiliki penguat dalam “Al-Musnad” (II : 525). Para perawinya terpercaya dan dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dalam “Takhriju Al-Ihya” (I/132). Al-Mundziri berkomentar (I: 183) : “Sanadnya bagus !” [3]

Yang Keenam :
Dari Ammar bin Yasir r.a bahwa beliau berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda.

“Sesungguhnya seorang hamba itu terkadang shalat, namun hanya dicatat ganjarannya seper sepuluh, seper sembilan, seper delapan, seper tujuh, seper enam, seper lima, seper empat, seper tiga, atau setengahnya” [4]
Diriwayatkan oleh Abu Daud (I : 127), Al-Baihaqi (II : 281) dan Ahmad (IV : 319-321), dari dua jalur sanad. Salah satunya dishahihkan oleh Al-Hafizh Al-Iraqi dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, sebagiamana juga dinyatakan dalam “At-Taqrib” (I: 184)

Yang Ketujuh : Dari Abdullah bin Asy-Syikhir, bahwa ia bertutur :

“Artinya : Aku pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang shalat. Dari dalam perutnya terdengar gemericik, seperti gemerciknya air (yang dimasak) dalam panci ; yakni karena tangisan”.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (I : 243), An-Nasa’i (I : 179), Al-Baihaqi (II : 251), dan Ahmad (IV : 25,26) dengan derajad sanad yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban masing-masing dalam Shahihnya, sebagainya juga diriwayatkan dalam “Shahih At-Trghib wa At-Tarhib” (No. 5445).

Hadits-hadits nan mulia ini, secara umum dan bebas meliputi seluruh jenis shalat. Baik itu shalat wajib maupun sunnat, baik itu siang maupun malam. Sehubungan dengan shalat tarawih, para ulama telah mengingatkan pentingnya hal ini. Imam An-Nawawi dalam “Al-Adzkar” (IV : 297) dengan penjelasan Ibnu ‘Allan pada bab dzikir-dzikir shalat tarawih menyatakan :

“Tata cara shalat ini (tarawih) seperti juga shalat-shalat yang lain yang telah dijelaskan sebelumnya. Maka didalamnya disyari’atkan do’a-do’a tersebut, seperti doa Al-Istiftah, membaca dengan sempurna dzikir-dzikir yang lain, melengkapinya dengan tasyahud dan doa sesudahnya serta hal-hal yang lain. Hal ini, meskipun dhahirnya sudah kita ketahui, namun saya sengaja mengingatkannya karena saya lihat kebanyakan manusia meremehkannya, sehingga mereka meninggalkan sebagian dzikir-dzikirnya. Padahal yang benar adalah apa yang telah kami paparkan”.

Al-Amiri dalam “Bajhatul Mahafil wa Bughyatu Al-Amatsil fi Talkhisi As-Siyari wal Mu’jizati wa Asy-Syamail” Pada akhir buku itu menyatakan :

Termasuk kekeliruan yang perlu diperhatikan dan diingat-ingat adalah apa yang menjadi kebiasaan banyak para imam shalat tarawih, dimana mereka membaca ayat dengan cepat, melakukan rukun-rukunnya dengan diringan-ringankan, dan membuang dzikir-dzikir didalamnya. Padahal para ulama telah menyatakan : Tata cara shalat itu tak beda dengan shalat-shalat lainnya, baik dalam syarat, adab-adab dan dzikir-dzikirnya, seperti ; do’a istiftah, dzikir-dzikir pada setiap rukun, doa seusai tasyahud, dan lain-lain. Diantaranya lagi, kebiasaaan mencari-cari ayat “Rahmat”, dimana mereka hanya ruku’ setelah membaca ayat-ayat tersebut. Terkadang hal itu menggiring mereka untuk melalaikan dua hal penting yang termasuk adab-adab shalat dan bacaan, yaitu : Lebih memanjangkan raka’at pertama dari kedua, dan memahami makna firman Allah yang saling terkait satu dengan yang lain. Penyebab semua adalah : Sikap meremehkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, sehingga hilanglah sunnah-sunnah itu, karena jarang digunakan. Sehingga orang yang menggunakannya malah dianggap asing ditengah umumnya manusia, karena menyelisihi kebiasaan mayoritas, dan itu akibat kerusakan zaman. Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan :
“ Hari Kiamat baru akan datang, apabila yang benar sudah dianggap salah, dan yang salah sudah dianggap benar”.

Maka hendaknya, kita sekalian berpegang teguh pada As-Sunnah. Kita harus berupaya menggapainya ; barang siapa yang mengikuti kitab (dalam As-Sunnah) maka ia akan berhasil, selamat dan bahagia. As-Sayyid Al-Jalil Abu Ali Al-Fudhail bin Iyyadh r.a berkata semoga Allah melimpahkan manfaat karena beliau telah menyatakan :

“Janganlah kamu merasa phobi dengan jalan-jalan kebenaran karena sedikit peminatnya, dan jangan kamu terpedaya dengan banyaknya jumlah orang-orang yang akan binasa”

Rabu, 18 Mei 2011

r@bU, 18 m3i 2011

HhHhmMmMm…..
Hri inI aQ bHgy, krNa “dY” m’briKan aQ snYumN yG gK prNh aQ liHaT sBluMnyA… Echh,, aQ jgA sDih, kRn@ aQ di_kHi@nAtii,, sEdiH rSa_nYa.. Tpi gK tW kNp??? “dY” hDir di_tnGah kSdih@nQ.. muNgQn iNi yG nMa_nYa pElnGi di_tNgaH hUjaN yG slMa bNyK oRg m_c@rinYa... “dY” hDir sAaT aQ t’jTuh dLm kEjeNuh@n,,, aQ iNgIn sLlu aDa di_dKatNya,, kRn@ aQ tn@nG jK “dY” aDa…
aQ aKui,, aQ sLah… kRn@ aQ mUnaFik,, aQ b_BohOnG pD pEraSaAnQ sNdrI,…. aQ pUr@2 ku@t & tDaK m_BtuHkNy@,,, pDh@l!!!!! DaL@m h@ti keCilQ,, aQ sNgT m_ingiNkAn “dY”,, aQ sLlU B_h@rap uNtuk daPat b3r$amA “dY”…..
Hmm,,, yAaaA…… kMrIn sMpai sA@t iNi,, aQ m_CnTainYa,, kRn@ “dY” uNik,, yaAa!!!!!!! sNgat UNIK…. m@yBe EsoK nNti & luSa yG akN dtAnG,,, aQ gK tW,, aPa aQ mSiH m_cInt@iNya aTaU sBliKnYa… I doN’T kNow….!!!!!!!
bUt,,, I tHinK I c@n LoVe hIm foR nOw,,, aNd fOrEver….. I mUsT c@n do iT.. uNtuK “dY” yG Q sYanK,, sDariL@h,, bHwa aDa cIntA yG m_nNtiMu di_Sni… cNt@ yG slLu mNunGguMu dLm tIap wKtu,,, cNta yg slLu m_bEriK@n ke_iNd@haN sPrTi mNtarI di_w@ktU pGi…..

Jumat, 08 April 2011

tugas tik ayu 4-9

download disini

tugas tik ayu fotokopi

download disini

tugas tik ayu mid 28

download disini

Sabtu, 05 Februari 2011

TENTANG DIA

Tentang dia…
Aku mengagumi semua yang ada pada dirinya..
Senyumnya, cara bicaranya, tutur bahasanya, akhlak & kepribadiannya..
Hanya dia yang ku kagumi, tak ad yang lain..
Semua ciptaan-Nya sangat indah, termaksud dirinya..

Tentang dia…
Cerita tentangnya, tak akan pernah habis..
Untuk ku, cerita tentangnya lebih indah
dari ayat-ayat cinta & ketika cinta bertasbih..
Karena kedua cerita itu,
telah menyatu dalam ceritaku tentang dia..
Namun, cerita tentangnya tak akan indah,
tak akan seprti cerita nabi-nabi Allah..

Tentang dia…
Aku hanya ingin mengaguminya..
Karena cerita tentangnya akan selalu mengalir..
Mengalir di pikiran & di ingatanku bersama aliran darahku..
Aku tak ingin memilikinya,
karena aku tak mau cerita tentangnya berakhir..
Apabila aku memilikinya, itu hanya sesaat saja,
karena semua akan indah pada awalnya saja,
& akan berujung kebencian..
Aku tidakk ingin membencinya,
& aku juga tidak ingin dia membenciku..
Karena itu akan membuatku berhenti untuk mengaguminya,
& berhenti bercerita tentang dia..
Aku ingin memilikinya bukan untuk sesaat saja,
bukan untuk seminggu, sebulan, setahun,
atau beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan beberapa tahun..
Tapi, aku ingin memilikinya untuk selamanya,
sampai pada saat aku tak mampu menggapai jemari tangannya,
untuk selalu aku genggam..

Tentang Dia…
Aku bersyukur kepada Allah SWT,
Karena Dia menciptakan semuanya indah..
Ya,, termaksud kehadirannya untuk aku kagumi..
Meski aku tak dapat melihat pelangi, itu tak apa!!!
Karena hidupku telah penuh warna karena dia..
Sungguh, semua itu karena dia,
Ya,, karena kehadiranya..

Tentang Dia…
Aku tak akan ragu uantuk selalu menggaminya..
Karena, jika aku ragu, berarti aku tak menyesal..
& jika aku mrnyesal, berarti tak akan ada lagi cerita tentangnya..
Aku tak ingin berhenti mengaguminya,
Karena dia sangat indah & dia memang indah..
Oleh karena itu, aku tak akan menyesal..
Sebab, dia mampu membuat hidupku menjadi indah…

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More